At Moroccan Soup Bar

May 17th, 2009 by Muja

 

Jumat, 3 April 2009

Inilah makan malam terakhir kami di Melbourne, entah mengapa malam ini terasa dingin sekali dan cuaca begitu jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Melbourne memang terkenal dengan cuaca yang sangat mudah berubah dalam sehari, kadang panas dan beberapa saat kemudian bisa dingin atau bahkan hujan.

Ketika tiba direstoran kami sudah ditunggu beberapa Alumni MEP yang juga pernah mengunjungi Indonesia. Disamping kanan saya Marwah alumni MEP 2006 yang berasal dari Mesir dan disamping kiri saya Hyder Gulam, seorang pengacara (aduh lupa alumni MEP tahun berapa, kalau tidak salah 2007), disudut kiri Nurliza Jumat yang asik ngobrol dengan Sarah dan Brynna, ada satu lagi tapi saya lupa namanya. Semuanya sibuk ngobrol diiringi alunan musik has Maroko yang lumayan ngebit sehingga kami harus ektra ngomongnya agar tidak kalah suara musik.

Restoran ini nampaknya banyak penggemarnya, hal itu terlihat dengan banyaknya antrian yang berdiri di depan restoran menunggu tempat yang kosong. Restoran ini salah satu restoran Muslim ternama di Melbourne. Beberapa saat kemudian pesanan makan malam pun tiba. Dari sekian banyak pesanan tidak satupun yang familiar bagiku, semuanya terasa aneh seaneh rasanya ketika saya mencicipi satu persatu.

Saat susana semakin cair dengan sharing antarpeserta MEP, tiba-tiba seorang pria berambut gondrong (pakai baju hitam di samping Hera) datang menghampiri kami “would you like to try a special coffee from Moroccan”.  Karena saya dan Marwah yang duduk paling kanan maka sempat bengong dengan pertanyaan tersebut. Rowan Akhirnya berdiri dan memperkenalkan kami bahwa kami adalah peserta MEP dari Indonesia. Mengetahui hal tersebut pria tersebut pun memperkenalkan diri dan akhirnya bergabung dengan kami sambil bercerita pengalam dia sebagai seorang Muslim. Kami terhenyat tatkala dia menyebutkan namanya, Hana Assafiri, terlebih lagi ketika Hana bercerita pengalaman dia dalam menjalankan syariat Islam sebagai seorang laki-laki yang aslinya dia seorang perempuan. Oh my God, ternyata dia perempuan tulen. Kami betul-betul mengira dia laki-laki karena penampilannya yang begitu gentle apalagi ketika mendekati kami dia sambil menghisap rokok. Sekilas penampilannya mengingatkanku pada vokalis band Search asal malaysia yang pernah begitu populer di Indonesia dengan lagu Isabella.

Hana juga banyak bercerita bagaimana awal berdirinya restoran dia sampai bisa berkembang seperti sekarang. Sebenarnya kami masih ingin bercerita lebih lama, tetapi banyaknya pengunjung yang antri membuat kami segera mengahiri pertemuan yang paling mengesankan.

Kekagumanku pada Hana semakin bertambah ketika kami hendak menuju mobil masing-masing Rowan memanggil kami sambil menyerahkan beberapa lembaran dollar. Oh ternyata semua biaya makan malam kami gratis karena Hana meminta kami menyumbangkan semua biaya makan malam kami untuk korban Situ Gintung. Laili sebagai perwakilan Jakarta dan lebih dekat dengan lokasi kejadian dipercayakan untuk memegang uang tersebut.

Hmmmm, semoga restoran mba’ Hana semakin berkembang dan apa yang diberikan pada kami malam ini bernilai ibadah disisiNya. Sepenggal do’a terucap dalam hati ketika saya menuju ke mobil Marwah.

Lovesamarinda

adelaide-0351     Hana Assafiri, The owner of Moroccan Soup Bar

Kenangan Public Dialogue

April 20th, 2009 by Muja

 

Saat presentasi di Melbourne Univ.

Saat presentasi di Melbourne Univ.

2 April dalam kenanganku…

Jam menunjukan 14.30 saat bulicdialogue berakhir. Tapi bukan berarti segala kenangan yang diakibatkan olehnya berakhir sudah.

Setelah mengetahui tanggal briefing di kedubes, saya tidak pernah lagi buka internet. Penyebabnya, pertama, internet di kampus error; kedua, kesibukan urus laporan kegiatan di kampus; ketiga, mengurus Konfrensi Wilayah Fatayat Nahdhatul Ulama (7-10 Maret). Kesibukan terakhir yang betul-betul menyita perhatianku karena harus menyusun formasi pengurus sebelum berangkat.  Pada saat saya mendaftar MEP jabatan saya masih koordinator departemen Research, tetapi ketika berangkat posisiku Sekretaris Umum, bahkan belum sempat dilantik. 

Saya baru buka internet ketika di Jakarta, dan betapa kagetnya ketika mengetahui bahwa kami harus menjadi pengisi acara di diskusi publik di Universitas Melbourne. Sontak saya menghubungi teman-teman di Samarinda untuk mekirimkan file-file fatayat. Suasana banjir membuat teman-teman tidak bisa memenuhi permintaanku, itu alasan pertama, alasan yang lain tidak semua pengurus Fatayat akrab dengan internet alias gatek. 

Setelah briefing saya mencoba  membuat power point, tetapi niat tersebut tidak pernah terlaksana. Di Jakarta saya menumpang di apartemen teman, taman rasuna, yang ternyata tidak jauh dari kedubes Australia. Teman saya salah seorang anggota bawaslu, sebagai pejabat dia super sibuk sehubungan dengan persiapan pemilu. Kemana beliau pergi saya selalu diminta ikut menjadi “asisten pribadi dadakannya”. Ternyata jadi asisten pribadi dadakan membuat saya tidak sempat membuat power point (uh tobat deh jadi pejabat negara). Akhirnya saya pasrah dan berharap masih bisa membuat di Australia. Ternyata setelaha melihat jadwal tidak ada waktu untuk itu.

Akibatnya, malam selasa (tanggal 1 April) menjadi malam lembur bagi kami semua. Lali dan Hera harus menghabiskan beberapa dollar untuk mengambil data mereka di internet, saya harus mencari-cari foto yang pernah kusimpan. Beberapa foto sempat kutemukan, tetapi anehnya foto-foto saat kami sharing program kerja dengan gubernur kaltim, saat kami di atas perahu dalam sebuah perjalanan safari Ramadhan ke daerah terpencil, saat bersama dinas kesehatan untuk memantau kesehatan para PSK, saat peresmian PIKER (Pusat Kesehatan Reproduksi), saat berada di tengah-tengah komunitas Dayak, dan banyak lagi yang menarik…..tapi tidak bisa di copy ke power point. 

Ketika jam menunjukkan pukul 2 malam, saya sudah tidak tahan berkelahi dengan rasa ngantuk, akhirnya saya memutuskan menyerah dengan harapan besok pagi masih bisa dilanjutkan. Tetapi, besoknya kami semua terlambat bangun sehingga tidak ada kesempatan untuk memperbaikinya. Kecuali Sarah dan Laili uda siap, saya belum rampung. Show must go on, itulah yang membuat saya pasrah. Saya tidak mungkin menghindar dengan alasan power pointnya belum sempurna. Malam itu mengingatkanku saat masih berstatus mahasiswa S2 di UGM. Tumpukan tugas membuat sering begadang karena “kejar tayang”.

Saya rasa itulah penampilan terburukku dihadapan umum.Teman-teman mengenalku sebagai orang yang perfeksionis, orang yang selalu menghasilkan karya bagus. Tetapi keperfeksionisanku  hari itu betul-betul rontok, untuk pertamakalinya saya tampil apa adanya. 

Betapa temanku ngakak saat saya memberitahukan ketololanku di Melborne university……..sahabat-sahabatku cuma bisa berkomentar Muja…..Muja…..tetapi kamu tetap menjadi kebanggaan kami. Saya bahkan belum berani memberitahu mahasiswa-mahasiswaku, mahasiswa kebanggaanku yang selalu setia menunggu cerita-ceritaku yang bisa membangkitkan semangat mereka. Tunggu saatnya ya….

Tapi hari itu betul-betul menjadi kenangan terindah (aduh samsons banget) dalam hidupku dan akan menjadi kisah klasik untuk sebuah masa depan (uh Seila on seven) sekaligus menjadi pelajaran bahwa manusia memang tidak ada yang sempurna.

Saran saya, panitia tetap membuat forum seperti itu agar kualitas MEP semakin bagus dan bisa berbagi cerita tentang Indonsia kepada masyarakat luas.

Lovesamarinda

Bye Melbourne….

April 16th, 2009 by Muja

Hari ini Sabtu, 4 April 09, saya sedih banget karena harus meninggalkan Melbourne. Enam hari tinggal di Melbourne telah menambah wawasanku dan ketemu banyak komunitas yang sangat menyenangkan, khususnya para guide kami yang begitu mengesankan. Ada suasana haru yang menyeruak dalam hati saat waktu berputar tanpa terasa. Suasana Melbourne yang biasanya sunny dan warm entah mengapa hari itu hujan yang membuat saya terhanyut oleh suasana, cuaca hari itu seolah ikut merasakan kesedihanku yang masih ingin menikmati kota Melbourne. 

Suasana semakin hening karena guide kami hari ini tidak banyak ngoceh, hari ini kami ditemani Marwah, gadis asal Mesir yang merupakan salah satu alumni MEP yang berkunjung ke Indonesia 2006. HAnya ada satu institusi yang kami kunjungi dihari terakhir, yakni senagoge, rumah ibadah Yahudi. Setelah itu belanja di pasar tradisional. Cuaca yang dingin membuatku membeli jaket tebal untuk menghangatkan tubuhku. Kami hanya punya waktu sejam untuk berbelanja karena jam 12 sudah harus ke bandara. Sebelum ke bandara kami makan siang di rumah makan Indonesia-Malaysia-Singapura.  

Suasana semakin hening saat perjalanan ke bandara. Saya tidak tau apa teman-teman yang lain juga merasakan hal ynag sama. Meski demikian kami masih tetap bercanda dengan Marwah dan Rowan saat tiba di bandara. Saat terdengar pengumuman yang meminta penumpang naik pesawat, saya meminta foto bareng dengan Rowan dan Marwah untuk terakhir kalinya. Saya juga memberikan kenang-kenangan buat Rowan (baju kaos kaltim) dan gantungan kunci untuk Marwah.

Sebelum berpisah sempat mempraktekkan bahasa Arabku yang pas-pasan pada Marwah Syukran katsiran ala ihtimamikum. Ilalliqo’. 

Selamat tinggal Melbourne, sekeranjang kenangan dan pengetahuan akan tetap kuingat dan kubagi pada masyarakat disekitarku. Semoga suatu saat bisa mengunjungimu lagi dalam nuansa yang berbeda.

Foto terakhir bersama Rowan dan Marwah

Foto terakhir bersama Rowan dan Marwah

s5030852

What’s Wrong Rowan?

April 15th, 2009 by Muja

 

Uniting Church, 2 April 09

Uniting Church, 2 April 09

Ada hal yang masih jadi tanda tanya bagi diriku saat mengunjungi Uniting Church Melbourne. Saat kami sudah bertemu dan berdialog dengan pengurus Uniting Church di meeting room, Jessica Butcher (school development coordinator) mengajak kami berkeliling melihat suasana gereja dan beberapa ruangan termasuk ruang kerja Jessica. Di ruang kerja Jessica saya melihat kaligrafi terpampang dan beberapa foto orang-orang Indonesia yang pernah berkunjung ke gereja tersebut. Ketika kami sampai pada salah satu ruang pelayanan, saya spontan berteriak “wow a big candle (sambil memegangnya”, saya kaget melihat lilin yang menurut saya sangat besar (padahal sudah dipakai, gimana tingginya ya saat belum terpakai??), inilah pertama kalinya saya melihat lilin sebesar itu. Saya jadi tidak bisa mendengarkan penjelasan Jessica karena saya hanya memperhatikan lilin. Saya tidak tau apakah ekspresi saya pada saat itu sesuatu yang lucu atau tidak, yang jelas kejadian itu membuat Rowan tertawa sampai-sampai dia balik badan (membelakangi Jessica) menahan ketawa. Selama Rowan mendampingi kami baru kali ini saya melihat dia menahan ketawa yang membuat wajahnya memerah dan tidak sungkan langsung merogoh hp-nya untuk mengabadikan diriku. Si Hera juga menertawakanku, ada apa toh?

Hera, Rowan, tell me please apa yang aneh hari itu?

Lovesamarinda

Salah satu sudut kota Melbourne

April 14th, 2009 by Muja

ml

Hari kedua di Melbourne sudah mengunjungi beberapa Institusi dan melihat-lihat suasana kota. Saya kagum dengan tingkat ketertiban dan kebersihan kota. Selama ini saya cuma mendengar cerita dari teman-teman yang pernah kuliah di Melborne atau beberapa daerah di Australia tentang kebersihan Australia. Orang-orang akan menyeberang jalan pada tempat yang sudah ditentukan, membuang sampah pada tong-tong sampah yang telah disediakan.

 

Menikmati kesejukan di salah satu suduk kota Melbourne

Menikmati kesejukan di salah satu suduk kota Melbourne

 

 

Hampir setiap sudut kota kita akan menemukan taman kota dan beberapa kursi yang sengaja dibuat untuk tempat duduk bagi yang ingin santai. Setiap keluar dari apartement akan mendapati petugas kebersihan yang menyapu dan membuang sampah yang sudah penuh di setiap tong sampah. Jauh beda dengan negeriku tercinta Indonesia. Di setiap sudut kota, apalagi di tempat keramaian kita akan menemukan sampah yang berserakan, walaupun sudah disediakan tong sampah masih saja buang sampah disembarang tempat yang menyebabkan aroma tak sedap merebak kemana-mana. Pengen banget melihat Indonesia bersih dan teratur…Kapan yah.

Lovesamarinda

Kesan di Metodist Ladies College

April 14th, 2009 by Muja

 

Pemberian cendera mata pada MLC diwakili Laili

Pemberian cendera mata pada MLC diwakili Laili

 

 

Saya kagum dengan sistem yang diterapkan di  MLC, cara belajar  yang santai dan kurang formal (untuk SMA).  Bayangin aja anak-anak boleh duduk denga berbagai gaya, ketika mengunjungi tingkat SMP masih agak lumayan karena muridnya pakai kursi. Ada yang duduk di atas meja, ada yang kakinya di atas kursi (maaf pakaian dalam kelihatan), dll. Jika hal tersebut terjadi di Indonesia pasti dianggap sebagai sesutu yang sangat kurang ajar, mana ada sekolah (pengalaman pribadi) yang siswanya duduk di atas meja, atau kakinya di atas kursi, atau rok pendek sampai paha ketika gurunya sedang ngomong apalagi berbicara dihadapan tamu.

Lebih unik lagi saat mengunjungi kelas tingkat SMA, benar-benar santai. Anak-anak belajar sambil duduk dengan gaya yang beraneka ragam, selonjoran, duduk bersila, sandar di bahu teman dll. Mereka bawa alas masing-masing (lihat picture). Duduk lesehan seperti itu mungkin ada di beberapa pesantren, tapi tidak seamburadul itu, anak-anak tetap santun (maksudnya gaya duduknya).  Anak-anak begitu antusias ketika kami bercerita tentang Indonesia dengan keanekaragaman budaya, agama, dan bahasa. Semoga dengan cerita kami mereka lebih mengenal Indonesia bukan hanya Bali.

 

suasana kelas SMA di MLC

suasana kelas SMA di MLC

Saat santai nunggu bagasi

April 14th, 2009 by Muja

Mejeng di Belakang BandaraSaat kebosanan menghantui akibat ketidakpastian bagasi maka kami memutuskan jalan-jalan di belakang bandara menikmati sejuknya udara Sidney. Udaranya begitu sejuk mengingatkanku akan suasana sejuk di Malino, Gowa-Sulsel. Dimana ya ada bandara di Indonesia yang sejuk????

Saat antri ambil barang di Qantas

April 14th, 2009 by Muja

antri-booo1

Hello world!

March 26th, 2009 by Muja

Welcome to Myblogrepublika.com Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!