Jumat, 3 April 2009
Inilah makan malam terakhir kami di Melbourne, entah mengapa malam ini terasa dingin sekali dan cuaca begitu jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Melbourne memang terkenal dengan cuaca yang sangat mudah berubah dalam sehari, kadang panas dan beberapa saat kemudian bisa dingin atau bahkan hujan.
Ketika tiba direstoran kami sudah ditunggu beberapa Alumni MEP yang juga pernah mengunjungi Indonesia. Disamping kanan saya Marwah alumni MEP 2006 yang berasal dari Mesir dan disamping kiri saya Hyder Gulam, seorang pengacara (aduh lupa alumni MEP tahun berapa, kalau tidak salah 2007), disudut kiri Nurliza Jumat yang asik ngobrol dengan Sarah dan Brynna, ada satu lagi tapi saya lupa namanya. Semuanya sibuk ngobrol diiringi alunan musik has Maroko yang lumayan ngebit sehingga kami harus ektra ngomongnya agar tidak kalah suara musik.
Restoran ini nampaknya banyak penggemarnya, hal itu terlihat dengan banyaknya antrian yang berdiri di depan restoran menunggu tempat yang kosong. Restoran ini salah satu restoran Muslim ternama di Melbourne. Beberapa saat kemudian pesanan makan malam pun tiba. Dari sekian banyak pesanan tidak satupun yang familiar bagiku, semuanya terasa aneh seaneh rasanya ketika saya mencicipi satu persatu.
Saat susana semakin cair dengan sharing antarpeserta MEP, tiba-tiba seorang pria berambut gondrong (pakai baju hitam di samping Hera) datang menghampiri kami “would you like to try a special coffee from Moroccan”. Karena saya dan Marwah yang duduk paling kanan maka sempat bengong dengan pertanyaan tersebut. Rowan Akhirnya berdiri dan memperkenalkan kami bahwa kami adalah peserta MEP dari Indonesia. Mengetahui hal tersebut pria tersebut pun memperkenalkan diri dan akhirnya bergabung dengan kami sambil bercerita pengalam dia sebagai seorang Muslim. Kami terhenyat tatkala dia menyebutkan namanya, Hana Assafiri, terlebih lagi ketika Hana bercerita pengalaman dia dalam menjalankan syariat Islam sebagai seorang laki-laki yang aslinya dia seorang perempuan. Oh my God, ternyata dia perempuan tulen. Kami betul-betul mengira dia laki-laki karena penampilannya yang begitu gentle apalagi ketika mendekati kami dia sambil menghisap rokok. Sekilas penampilannya mengingatkanku pada vokalis band Search asal malaysia yang pernah begitu populer di Indonesia dengan lagu Isabella.
Hana juga banyak bercerita bagaimana awal berdirinya restoran dia sampai bisa berkembang seperti sekarang. Sebenarnya kami masih ingin bercerita lebih lama, tetapi banyaknya pengunjung yang antri membuat kami segera mengahiri pertemuan yang paling mengesankan.
Kekagumanku pada Hana semakin bertambah ketika kami hendak menuju mobil masing-masing Rowan memanggil kami sambil menyerahkan beberapa lembaran dollar. Oh ternyata semua biaya makan malam kami gratis karena Hana meminta kami menyumbangkan semua biaya makan malam kami untuk korban Situ Gintung. Laili sebagai perwakilan Jakarta dan lebih dekat dengan lokasi kejadian dipercayakan untuk memegang uang tersebut.
Hmmmm, semoga restoran mba’ Hana semakin berkembang dan apa yang diberikan pada kami malam ini bernilai ibadah disisiNya. Sepenggal do’a terucap dalam hati ketika saya menuju ke mobil Marwah.
Lovesamarinda










Saat kebosanan menghantui akibat ketidakpastian bagasi maka kami memutuskan jalan-jalan di belakang bandara menikmati sejuknya udara Sidney. Udaranya begitu sejuk mengingatkanku akan suasana sejuk di Malino, Gowa-Sulsel. Dimana ya ada bandara di Indonesia yang sejuk????